Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Thailand Khawatir Kripto Semakin Marak Jadi Alat Bayar

Bank Sentral Thailand khawatir, karena di Negeri Gajah Putih itu kripto justru digunakan sebagai alat pembayaran, selain mata uang baht.

Bank Sentral Thailand mengatakan semakin banyak perusahaan yang meminta pembayaran dalam mata uang kripto, seperti Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH).

Bank sentral menegaskan kembali pendiriannya tentang kripto dan memperingatkan risiko menggunakannya sebagai alat pembayaran.

Penegasan itu lewat pengumuman resmi pada Kamis (8/7/2021). Lembaga negara itu menjelaskan bahwa beberapa perusahaan baru-baru ini mulai meminta pembayaran untuk barang dan jasa dalam mata uang kripto, dengan menyebut BTC dan ETH sebagai contoh.

“Kami menegaskan sekali lagi, bahwa aset digital [kripto-Red] bukanlah alat pembayaran yang sah dan tidak boleh digunakan untuk transaksi barang dan jasa. Penggunaannya sangat berisiko, karena volatil dan rawan digunakan untuk kejahatan dan pencucian uang,” sebut bank sentral, dilansir dari CNA, Kamis (8/7/2021).

Otoritas keuangan di Thailand, SEC, belum lama ini mengeluarkan maklumat khusus, bahwa bursa kripto di Thailand tidak boleh memperdagangkan kripto berjenis meme, termasuk memperjualkan NFT.

Thailand juga bersikap keras terhadap bursa kripto Binance yang dianggap ilegal.

Kripto, Uang Komunitas

Pada prinsipnya cryptocurrency (kripto) adalah uang bernilai dan bisa ditukar menjadi uang biasa, sehingga disebut dengan dengan currency (mata uang).

Hanya saja, penerbitan mata uang itu bukan oleh bank sentral sebuah negara, melainkan oleh perusahaan swasta, perorangan, bahkan kelompok.

Berkat sistem blockchain, kripto itu bisa dikirimkan ke mana saja. Transaksinya juga lebih mudah diverifikasi karena bersifat terbuka.

Sejak sistem uang elektronik Bitcoin diciptakan oleh Satoshi Nakamoto, secara mendasar itu mengubah konsep uang.

Nakamoto memahami, bahwa kekuatan uang itu harus lebih demokratis dari rakyat dan untuk rakyat.

Bagi penghayat berat Bitcoin, konsep uang tak hanya dari bank sentral dan didominasi oleh negara.

Di sisi lain, makna kripto menjadi “community money” atau “decentralized currency“, satu konsep yang pernah bertahan beberapa tahun di Amerika Serikat di masa lampau.

Ketika itu, sebagian besar negara bagian, termasuk perusahaan, diperbolehkan menerbitkan uang sendiri dengan kebutuhan yang beragam.

Ketika Bank Sentral AS alias The Fed berdiri, konsep itu dihapuskan, karena menyebabkan ketidakteraturan moneter di dalam negeri.

Seperti uang biasa yang diterbitkan negara, kripto memang sering digunakan untuk pencucian uang, dana hasil kejahatan.

Kendati transaksi kripto transparan, tetapi tidak mudah untuk melacak penggunanya, hingga pelakunya menukar menjadi uang biasa di bursa kripto.

Di Indonesia sendiri, serupa dengan kebijakan Thailand. Di Tanah Air, kripto masuk kategori aset komoditi yang layak diperdagangkan di bursa berjangka komoditi, seperti emas, minyak mentah dan lain sebagainya.

Hanya saja bursa jenis ini belum diluncurkan yang kelak digabungkan dengan bursa kripto spot (crypto exchange) sebagai anggotanya. [nic]

Protected with blockchain timestamps

Nicholas Nararyahttps://www.hariankripto.id
Menulis adalah kegairahan tersendiri, apalagi soal aset kripto sebagai kelas aset baru yang memukau. Sulit menolak untuk menjadi bagian dari sejarah luar biasa ini.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }