Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Rupiah Digital, Bank Indonesia Berhentilah Berwacana

Soal akan meluncurnya rupiah digital, Bank Indonesia sebaiknya berhenti berwacana. Mengatakan berencana atau akan berencana sesungguhnya tak berguna. Kita perlu langkah nyata.

Digitalisasi uang amatlah mendesak. Tujuannya adalah mencapai efisiensi dari segi waktu dan biaya.

Lihatlah biaya cek saldo di ATM di Indonesia sengaja dibuat menjadi mahal. Itu adalah upaya “rekayasa sosial” agar lebih banyak warga +62 menggunakan aplikasi mobile banking ataupun aplikasi fintech.

Kelak masyarakat cashless akan terwujud, walaupun warga di desa pelosok masih awam dengan itu.

Lihatlah GoPay dan OVO sejatinya mewakili revolusi uang ke arah yang benar. Bahwa uang elektronik nan digital sudah melekat di sanubari masyarakat kita.

Hanya saja, melompat ke rupiah digital, masyarakat menjadi bertambah bingung, apa bedanya dengan uang elektronik di ponsel mereka masing-masing?

Apakah jauh lebih efisien atau jangan-jangan menjadi lebih mahal dan tidak kompatibel dengan sistem perbankan saat ini?

Tak semua paham mengapa pertanyaan itu muncul, apalagi jawabannya.

Pangkal dari uang digital adalah dari lahirnya teknologi blockchain Bitcoin pada tahun 2008 dari tangan Satoshi Nakamoto.

Itu adalah satu sistem uang elektronik yang bersifat peer-to-peer. Ia punya unit moneter sendiri, unit uang dan bernilai, juga bernama Bitcoin (BTC).

Sistemnya berada di luar sistem moneter bank sentral manapun. Ia adalah sistem moneter swasta dan komunitas ataupun pribadi rakyat biasa. Ia desentralistik, karena tidak ada entitas tertentu yang mengendalikan sistem secara keseluruhan.

Blockchain juga bersifat terbuka, memungkinkan orang mentransfer objek digital bernilai kemana saja dan kapan saja, lintas negara, lintas benua.

Ia pun jauh lebih hemat daripada menggunakan jasa perbankan atau fintech lainnya, yang sistemnya dikendalikan oleh bank sentral.

Efisiensi waktu dan biaya dan daya jangkau global itulah yang dilirik oleh Bank Sentral Tiongkok sejak tahun 2014.

Bank Sentral Uni Eropa, Inggris, Korea dan banyak negara lain sedang meneliti dan mengembangkannya, termasuk AS sendiri.

Di saat yang sama sudah ada United Stated Dollar Tether (USDT) yang memungkinkan transfer dolar secara murah dan cepat kemanapun.

Lagi-lagi, sistem itu berada di luar struktur perbankan, apalagi bank sentral.

Ketika itu USDT masih mengandalkan blockchain Bitcoin sebagai kendaraan transfernya. Lalu menggunakan blockchain Ethereum dan Tron dan bertahan hingga detik ini.

Menggunakan Ethereum misalnya, mengirimkan dolar sebanyak apapun, hanya 5 USDT biaya kirimnya. Sedangkan menggunakan blockchain Tron, hanya 1 USDT.

Anda bisa membandingkan hemat teknologi itu dibandingkan menggunakan jasa perbankan, bisa 5 hari kerja antar luar negeri yang berbeda bank.

Rupiah Digital dan Blockchain

Inti kata di sini adalah, sistem perbankan dan fintech biasa pada dasarnya sudah ketinggalan zaman.

Mereka perlu sentuhan teknologi blockchain ataupun sejenisnya agar lebih efisien, meniadakan atau mengurangi rantai distribusi uang.

Kami berkeyakinan, Bank Indonesia sudah siap dengan teknologi itu, karena sebagian dari kita sudah terbiasa dengan rupiah elektronik di GoPay dan OVO.

Ekosistem perdagangan daring kita pun luar biasa, belanja daring adalah sebuah kelaziman dan rupiah digital primitif sudah menjadi bagian terpadu darinya.

Jangan Terlalu Asyik Berwacana

Hanya saja, Bank Indonesia sebaiknya berhenti berencana, akan berencana dan terlalu asyik berwacana soal akan hadirnya rupiah digital, dengan informasi tak menyeluruh, serba tanggung.

Di atas itu semua, Bank Indonesia seharusnya sudah bisa memulai langkah konsultasi publik soal rupiah digital.

Bank Indonesia harus cepat menyodorkan garis-garis besarnya kepada rakyat secara lebih sistematis, bukan dengan omongan pendek dan sentilan-sentilun.

Benar, dapat dipahami ada dampak ekonomi makro akibat rupiah digital, karena pada prinsipnya, peran bank biasa akan berkurang, karena rekening bank warga langsung dari bank sentral.

Tetapi, informasi yang terpotong-potong sebaiknya direm sejenak dan percepat menyetor informasi yang lengkap dan sistematis dalam bentuk konsultasi publik. Segera! [nic]

Protected with blockchain timestamps

Nicholas Nararyahttps://www.hariankripto.id
Menulis adalah kegairahan tersendiri, apalagi soal aset kripto sebagai kelas aset baru yang memukau. Sulit menolak untuk menjadi bagian dari sejarah luar biasa ini.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }