Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Pemilik Pabrik Senjata Kalashnikov Ingin Pakai Mata Uang Digital

Alan Lushnikov, pemilik pabrik senjata Kalashnikov di Rusia, ingin memakai mata uang digital. Hal itu ia ungkapkan di Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF), Kamis (3/6/2021).

Di forum itu Alan menyampaikan harapannya pihaknya akan beralih dari sistem perbankan biasa ke sistem non-perbankan, yakni menggunakan mata uang digital yang dekat dengan cryptocurrency.

“Sistem ini tidak bergantung pada sistem SWIFT yang selama ini digunakan oleh bank. Sistem mata uang digital juga tidak dikendalikan oleh bankir,” kata Lushnikov, dilansir dari Tass, Kamis (3/6/2021).

Lushnikov adalah mantan Menteri Transportasi Rusia (2017-2018). Ia membeli 75 persen saham di Kalashnikov melalui sebuah perusahaan bernama TKH-Invest.

SPIEF yang diselenggarakan oleh Roscongress Foundation berlangsung sejak tanggal 2 sampai 5 Juni 2021, fokus pada persoalan ekonomi baru.

Bank Rusia Ingin Menawarkan Kripto

Di sisi lain, Tinkoff, bank daring terbesar di Rusia, juga buka suara di forum itu. Mereka ingin menawarkan perdagangan kripto kepada kliennya. Namun ada sejumlah tantangan dari Bank Sentral Rusia.

“Belum ada tata cara khusus bagi kami untuk menawarkan produk itu kepada klien kami di Rusia. Karena bank sentral sendiri dalam posisi sulit terkait itu,” kata Oliver Hughes, CEO Tinkoff.

Warga Rusia memang tak dilarang memiliki dan berdagang kripto. Hanya saja kripto, termasuk Bitcoin tidak boleh digunakan sebagai alat pembayaran barang dan jasa, baik secara luring ataupun daring.

Pandangan Gubernur Bank Sentral Rusia

Awal pekan ini, kepada CNBC, Gubernur Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina, menyampaikan bahwa mata uang digital adalah masa depan bagi sistem keuangan, tetapi bukan mengacu pada kripto, melainkan pada mata uang digital bank sentral (CBDC).

Sekedar informasi, CBDC seperti rubel digital tidak bersifat desentralistik seperti kripto pada umumnya, karena uang itu diterbitkan dan dikendalikan oleh pihak berwenang, dalam hal ini adalah oleh bank sentral.

Bank Sentral Rusia berencana mengujicoba rubel digital pada tahun depan, setelah tahap konsultasi publik pada tahun ini.

Bank sentral negara lain juga getol meneliti, mengembangkan dan mengujicobanya, seperti Inggris, Tiongkok, Bahama dan lain sebagainya.

Soal rubel digital, Alexander Shulgin, CEO perusahaan Ozon, mengatakan bentuk uang baru itu akan membantu bisnisnya.

“Jika setiap orang memiliki kesempatan untuk membayar dengan mata uang digital secara daring, ini merupakan transaksi yang lebih mudah bagi perusahaan seperti kami,” ujar Alexander.

Kekhawatiran pemerintah kepada kripto, yang kerap digunakan untuk mencuci uang dan kegiatan melanggar hukum, memicu lahirnya CBDC. [st]

Protected with blockchain timestamps

Syofri Taka
Menulis artikel tak hanya berdasarkan sumber-sumber yang benar. Artikel perlu tambahan makna lewat konteks dan spektrum yang beragam.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }