Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Peluang Investasi Bitcoin dan Aset Kripto Lainnya

Investasi Bitcoin itu kian nyata. Peluangnya besar, tapi ada sejumlah tantangan lainnya. Apa saja?

Aset kripto, juga dikenal sebagai mata uang (currency) kripto, seperti Bitcoin kian popular. Banyak perusahaan besar membelinya untuk menyelamatkan keuangan perusahaan. Lantas bagaimana masa depannya. Simak ini!

Pada prinsipnya Bitcoin adalah mata uang alias currency. Namun, di sejumlah negara tidak diakui sebagai alat pembayaran yang sah. Ia hanya masuk kategori komoditas dan aset digital.

Namun, pada kenyataannya, karena ada sistem transfer menggunakan blockchain, kripto tidak bisa dihindarkan sebagai alternatif pembayaran dibandingkan bank.

Ragam Pilihan

Nah selain Bitcoin, ada begitu banyak jenis mata uang kripto yang beredar di dunia maya antara lain, Ether (ETH), Binance Coin (BNB), Ripple (XRP), Tether (USDT dan Polkadot (DOT) dan lain sebagainya.

Jumlah mata uang kripto ini bahkan mencapai 4.000-an jenis dengan nilai yang berbeda-beda.

Mengapa kripto dianggap penting oleh trader maupun investor masa kini?

Berikut penjelasan kami, dengan model tanya-jawab.

Apakah Bitcoin layak sebagai investasi jangka panjang?

Bagi Anda yang kenal Bitcoin sejak tahun 2014 silam dan konsisten, Bitcoin saat ini sudah layak dijadikan sarana investasi jangka panjang.

Pasalnya, tak hanya dia langka selayak emas, Bitcoin juga memberi kemudahan dalam bertransaksi dengan teknologi blockchain.

Itu memudahkan kita mentransfer Bitcoin kepada siapa saja dan kapan saja. Dan yang pasti sistemnya tidak terhubung secara langsung ke sistem perbankan dan sistem keuangan di bank sentral manapun.

Ia bersifat terbuka dan mengizinkan orang memilikinya. Teknologi-nya pun bersifat open source.

Tapi, kan Bitcoin itu sarat spekulasi?

Kalau disebut spekulasi sah-sah saja, khususnya bagi para trader di spot market ataupun di futures market yang mengandalkan teknik scalping alias daily trading.

Salah satu bukti Bitcoin sebagai investasi yang menguntungkan adalah Tesla yang kemarin mengumumkan sudah menjual sebagian dari kepemilikan Bitcoin-nya senilai US$272 juta.

Dari hasil penjualan itu Tesla untung bersih sekitar US$101 juta setelah dipotong pembayaran utang.

Sebagian dari laba bersih perusahaan disumbang sebagian oleh hasil jual Bitcoin itu.

Toh, spekulasi bisa terjadi pada jenis aset apa saja, mulai dari valas, properti dan emas.

Bagaimana dengan kelayakan Bitcoin sebagai instrumen investasi yang tidak memiliki aset dasar (underlying asset)?

Ya, mereka yang ragu sah-sah saja sebenarnya. Karena ini adalah kelas aset baru, volatilitasnya masih terhitung tinggi sehingga ditafsirkan sangat berisiko tinggi.

Volatilitas Bitcoin itu sekitar 8 kali lipat lebih tinggi daripada pasar valas dan 4 kali lipat daripada pasar saham.

Namun, volatilitas Bitcoin sebenarnya semakin rendah sejak tahun 2018. Ketika pasarnya semakin beragam, tak hanya spot market, ada pula futures market yang dipimpin oleh CME di AS sejak 2017 dan oleh Binance sejak 2018.

Kemudian, ada pula perusahaan Grayscale yang menerbitkan instrumen investasi Grayscale Bitcoin Trust (berawal sejak tahun 2013).

Di Kanada malah ada Bitcoin ETF yang diperdagangkan di bursa efek.

Itu semua untuk mengkomodir permintaan terhadap Bitcoin. Bahkan Tesla dan MicroStrategy memborong BTC dalam jumlah besar.

Permintaan yang besar dan ditahan pada prinsipnya akan menekan volatilitas BTC menjadi lebih kecil lagi.

Bagaimana prospek bitcoin, apakah penggunanya bisa bertahan lama?

Ya, untuk saat ini, itu terbukti dari berhasilnya Bitcoin melampaui resisten Desember 2017 yakni US$20 ribu pada tahun 2020 lalu.

Lalu pada tahun 2021 menembus level tertinggi sepanjang masa yakni US$64.863 dolar pada 14 April 2021.

Disebut timeless tidak juga, agak naif disebut timeless. Karena ada pola kenaikan puncak setelah halving dan bisa turun drastis kembali seperti setelah desember 2017.

Namun ini diperkirakan akan naik kembali setelah luruh besar.

Prospek BTC di Indonesia sendiri bagaimana ?

Ya, Bitcoin secara sistem sebenarnya adalah sistem uang elektronik, di mana fiturnya adalah penciptaan unit nilai moneternya dan sistem transfer, termasuk mekanisme pelangkaan lewat halving setiap 4 tahun sekali.

Jadi, pada dasarnya BTC sebagai unit nilai adalah alat pembayaran. Negara yang tidak memperkenankan BTC sebagai alat pembayaran sebenarnya sah-sah saja.

Hanya saja, bagi negara yang melarangnya, mungkin khawatir mata uangnya sendiri yang sedang atau akan melemah karena tergantikan dengan pembayaran menggunakan Bitcoin.

Pun secara nyata, BTC memang sulit dipakai untuk transaksi sehari-sehari, kerena biaya transfernya saat ini mencapai Rp200 ribuan per transaksi.

Hal itu karena harga BTC sendiri sudah mahal dan miner ingin mencetak laba besar.

Namun, untuk nominal pengiriman BTC dalam jumlah besar, biaya transfer itu termasuk murah. Toh nominal transfer pada dasarnya tidak terbatas.

Saat ini banyak aset kripto lain, apakah itu akan mengancam pasar Bitcoin di masa depan?

Ya, bisa saja. Tetapi saat ini belum ada penampakan aset mana yang bisa jadi pesaing BTC karena Bitcoin sendiri dirancang akan terus langka dengan periodik setiap 4 tahun (halving). Ini selayak emas.

Sedangkan aset lain pasokan unitnya bahkan ada yang terbatas.

Ada pula yang jauh lebih langka daripada emas, tetapi penggunanya sangat sedikit..

Jika kelak batas produksi BTC mencapai 21 juta BTC tercapai, apa imbasnya terhadap harga dan minat pasar?

Soal ini kita tak tahu pasti. Yang pasti adalah para penambang Bitcoin tak lagi mendapatkan Bitcoin baru dari hasil mining.

Tugas mereka kelak hanya memverifikasi dan mengonfirmasi setiap transaksi. Dari biaya transaksilah mereka mendapatkan penghasilan.

Apa ancaman atau tantangan utama berinvestasi Bitcoin saat ini ?

Yang utama adalah perkembangan komputer kuantum yang semakin canggih.

Komputer kuantum yang kekuatannya kelak ribuan kali lipat dari semua komputer super di muka bumi adalah ancaman nyata terhadap sistem blockchain Bitcoin.

Secara teoritis perlu sekitar 10-20 tahun lagi agar sistem itu bisa diretas dengan komputer kuantum.

Di sini, lead developer dan ekosistem Bitcoin perlu bersiap diri agar sistem Bitcoin menjadi quantum-proof, dengan menerapkan algoritma yang baru.

Pergerakan harga BTC fluktuatif dan tajam, apa tantangan berinvestasi BTC saat ini dan di masa akan datang?

Kita kembalikan lagi dari volatilitasnya. Kalau ke depan volatilitasnya akan terus rendah, maka layak dijadikan investasi jangka panjang.

Namun, harus diperhatikan pula soal cycle repeat Bitcoin pasca halving. Misalnya pada Desember 2017 itulah harga top price BTC pasca halving, yakni US$20 ribuan.

Dari sana harga terkoreksi hingga 85 persen. Lalu naik kembali melebihi harga di bulan itu, seperti sekarang.

Dan itu bisa saja terjadi pada tahun ini masuk ke top price after halving, lalu merosot bisa serupa 85 persen. Namun, setelah itu akan naik kembali. Ini sebuah siklus. [rid]

Ridho Riyadhhttps://www.hariankripto.id/
Setiap langkah kecil menulis tentang aset kripto adalah langkah besar untuk masa depan keuangan dunia. Jangan kita lapuk demi fiat money yang sudah lapuk dan tergerus.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }