Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Manifesto Pembebasan ala Kripto

Salah satu pertarungan pemikiran filsafat sejak lahirnya peradaban Homo sapiens hingga saat ini adalah pertarungan sentralisme versus desentralisme, dan positivisme versus dekonstruksi modernisasi.

Namun, ada pertanyaan penting di sini, haruskah kekuasaan atas sosial, politik dan ekonomi harus terpusat pada individu atau oligarki-sentralisme, versus kekuasaan kendati diletakkan kepada kesepakatan kolektif melalui institusi desentralistik?

Haruskah arah masyarakat dunia ditujukan pada satu bentuk tatanan dengan cara produksi tertentu–positivisme?

Ataukah menerima metode dan tujuan masing masing masyarakat yang beragam? Banyak pihak menjelaskan narasi besar ini dalam praktik, namun sedikit yang menciptakan fitur yang bisa mengoperasionalkan pertandingan gagasan besar itu.

Blockchain, sebuah teknologi temuan sekelompok developer program satu dekade terakhir yang menawarkan praksis teknologis menjawab tantangan desentralisme, otonomi individu dan pengambilan keputusan demokratik.

Potret proses teknikal-teknologis milik para developer blockchain itu dapat diambil sebagai cermin yang berhasil memicu perubahan cara produksi kapital dan relasi sosial.

Blockchain, termasuk teknologi terbaru lainnya semacam Artificial Intelligence dan Data Science menjawabnya dengan  cara beragam.

Namun secara khusus dan unik, blockchain memberikan kritik sekaligus jawaban yang bermasa depan dengan membongkar prinsip dasar cara produksi kapital dan rente yang mengikutinya.

Blockchain, dalam praktiknya, melancarkan kritik secara bersamaan kepada dua hal: institusi keuangan dan korporasi sentralistik dalam memutuskan nilai dan alat ukur penyimpan nilai (store of value).

Blockchain menawarkan prinsip desentralistik-demokratik sebagai anti tesis terhadap teknologi monopolistik semacam Apple, Microsoft, Amazon, Alphabet, Alibaba, dan Facebook.

Kritik Ideologi dan Blockchain

Dalam buku populernya, Ilmu, Sains dan Teknologi sebagai Ideologi (1960), Jurgen Habermas mempertanyakan pembelaan sains terhadap proyek ideologis modernisasi dan kapitalisme plus cara produksinya, sembari menitipkan harapan, bahwa ilmu pengetahuan yang otentik mampu memberikan kritik dan alternatif terhadap proyek proyek seperti itu.

Ilmu, sains dan teknologi seharusnya bisa berkontribusi pada dekonstruksi fitur-fitur kapitalisme serta menyajikan jalan keluarnya.

Jawaban praksis, celakanya, tidak dihadirkan oleh para profesor ilmu sosial, tetapi para programer komputer.

Para programer dan ahli matematika semacam Satoshi Nakamoto (pseudonim), Vitalik Buterin, Charles Hoskinson, Charlie Lee dan ratusan kawan kawannya yang berkontribusi terhadap penciptaan blockchain, sadar atau tidak sadar, mampu memberikan jawaban atas pertanyaan filsafat ini kehadapan kita.

Aset kripto sebagai objek turunannya, menawarkan jembatan pembebasan yang bermasa depan, meskipun jalan masih panjang.

Dan belum ada gambaran yang benar benar utuh atas tatanan ekonomi berkeadilan di seberang sana.

Ambil Contoh Praktik Uang Digital  

Dalam kasus uang digital atau aset kripto, otoritas atas nilai yang secara klasik berada pada fiat money sebagai store of value dengan otoritas bank sebagai pihak ketiga, dijawab dengan sistem pembukuan permanen peer to peer, di mana bank bergeser kepada masing-masing individu pemilik nilai tersebut.

Nilai tidak lagi dititipkan pada fiat money dan bank, tetapi langsung pada akun pribadi masing masing orang.

Di sini muncul komplikasi tersendiri, karena campur tangan negara atau pihak ketiga lainnya dalam menentukan nilai, justru secara alami bertolak belakang dengan prinsip dasar blockchain itu sendiri.

Aplikasi desentralistik (dApp) yang tumbuh di atas berbagai blockchain tidak didominasi oleh siapapun, termasuk oleh developer-nya.

Keputusan untuk revisi aplikasi suatu blockchain misalnya, tidak ditentukan oleh pencipta awal, tetapi terbuka oleh para pemakai aplikasi itu sendiri secara demokratik.

Masa Depan Kripto

Tidak ada defenisi statik atas teknologi ini, karena dibangun sebagai hasil karya terbuka (open source).

Inovasi yang terus menerus berlangsung secara independen membuat teknologi ini akan terus menerus berkembang.

Namun, identifikasi lingkungan strategis berikut ini setidaknya mampu memberikan gambaran seperti apa aset/uang kripto ini di masa depan.

Programer. Grup programer ini adalah minoritas dalam populasi global, namun sangat menentukan arah dan hidup matinya teknologi ini.

Kelompok “developers” ini berada pada posisi menuntaskan jawaban teknis seperti inovasi yang dibutuhkan dalam rangka pengurangan penggunaan energi untuk menjalankan blockchain, biaya, kecepatan dan skala operasi jaringannya.

Salah satu pekerjaan penting para programer platonistik ini adalah bagaimana menerjemahkan konsep dan praktik komputasi yang rumit menjadi sederhana kepada kelompok awam yang mendominasi populasi.

Populasi global pengguna aset kripto. Studi yang dilakukan Crypto.com (2021) menyebutkan, hingga Januari 2021, terdapat 106 juta orang pengguna aset kripto secara global.

Dalam satu dekade perjalanannya, pertumbuhan populasi relatif datar, kecuali pada Januari 2021 yang melonjak sebesar 15,7 persen.

Populasi ini tentu masih sangat sedikit dibanding penduduk dunia yang sudah melek Internet sebesar 6,6 milyar penduduk (Global Digital Overview, 2021).

Jika getaran aset kripto semakin kuat ke publik, maka diprediksi akan terjadi ledakan pengguna aset kripto dalam beberapa tahun ke depan.

Institusi perbankan dan korporasi. Kelompok ini relatif mudah beradaptasi, meski di saat yang bersamaan bisa melakukan upaya kontra-produktif jika aset kripto dianggap sebagai ancaman, khususnya oleh institusi perbankan.

Institusi bank, baik swasta maupun usaha negara, memiliki pengaruh yang kuat terhadap para pelaku kebijakan strategis baik di level nasional maupun internasional.

Korporasi relatif lebih mudah beradaptasi dan mengambil bagian dalam aset kripto. Para pemilik “crypto currency exchanges and wallets” adalah para korporat, atau telah menjelma menjadi korporat raksasa baru.

Regulator. Negara dan pemerintah tetap memegang peran penting, meskipun teknologi ini secara alami tidak membutuhkan pihak ketiga.

Pada praktiknya sistem aset kripto yang peer-to-peer telah terhubung dengan sistem keuangan resmi atau fiat, dan korporasi.

Di dalamnya usaha jual beli kripto dilakukan memerlukan legalisasi dari pemerintah setempat.

Dalam berberapa kasus seperti di India dan Nigeria, pemerintah melakukan pelarangan terhadap penggunaan aset kripto yang berdampak buruk terhadap pertumbuhan pengguna aset kripto di negara-negara tersebut.

Pada akhirnya, penentu utama hidup matinya blockchain dan ratusan aplikasi yang diletakkan di atasnya adalah pemakai teknologi itu sendiri.

Blockchain ibarat stadion sepak bola, segalanya akan berjalan baik jika orang orang masih bermain bola di stadion itu.

Semua diuntungkan mulai dari pemain, pelatih, agen, pemungut karcis, penjual jersey, hingga penjual sate di sekitar stadion.

Penonton? Tetap juga untung, setidaknya enak tidur setelah nonton tim kesayangannya, apalagi dengan posisi menang.

Seperti stadion sepak bola yang terus hidup ketika manusia masih bermain bola, demikian blockchain dan uang kripto, akan hidup selagi masih dipakai penggunanya, dan selagi kita belum menemukan teknologi terbaru yang bisa menggantikannya di masa depan. [ps]

Protected with blockchain timestamps

Panda Siagianhttps://www.hariankripto.id/
Menekuni dunia blockchain dan kripto sejak 2017. Tertarik mendorong penggunaan bockchain untuk demokrasi, kemanusiaan dan lingkungan hidup. Bisa dihubungi melalui email: harian.kripto.id@gmail.com

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }