Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Gegara Taliban, Pemuda Afghanistan Gagal Jadi Penambang Bitcoin

Sosok penambang Bitcoin, Muhammad Ali mengatakan dia bermimpi membangun bisnis kripto sebelum Taliban mulai meluluhlantakkan Afghanistan.

Hal itu akhirnya memaksanya melakukan perjalanan yang menakutkan ke barat melalui Iran dan Turki. Ia juga menghindari pengamanan perbatasan saat dia pergi.

Harapannya menambang koin di negaranya sendiri harus pupus lantas kekacauan di sana. Ali harus melintasi perbatasan dan menuju Eropa demi bisa meraih mimpinya.

Gagal Menambang Bitcoin, Afghanistan Tidak Ada Jaringan Internet

Kemenangan Taliban di Afghanistan telah menimbulkan kekhawatiran bahkan di Turki. Sebuah pos perbatasan bagi banyak migran yang berusaha mencapai Eropa dan sudah menjadi rumah bagi hampir 4 juta warga Suriah, dan kini menerima gelombang baru pengungsi.

Kondisi ini pun telah meningkatkan keamanan di perbatasannya dengan Iran meski beberapa warga Afghanistan ternyata masih bisa melewatinya.

Ali sendiri berlindung di terowongan drainase di luar distrik Tatvan di provinsi Bitlis timur Turki. Pemuda 20 tahun ini berasal dari provinsi Khost Afghanistan.

Ia mengaku sedang menunggu transportasi ke barat dan ingin pergi ke Eropa. Bersamaannya ada sekira 50 orang lainnya berlindung di terowongan itu.

Menjadi penambang BTC adalah mimpinya, apalagi ia pernah belajar ilmu komputer dan mengajar web dan desain grafis di Afghanistan.

Selain itu, Ali pula memiliki saluran YouTube di mana dia mem-posting video tentang topik termasuk cara menghasilkan uang secara online.

“Saya sedang merencanakan bisnis penambangan Bitcoin atau Ethereum. Tapi tiba-tiba semuanya berubah dan Taliban mengambil alih seluruh Afghanistan,” katanya, sebagaimana dilansir, Jumat (27/8/2021) dariĀ Reuters.com.

“Tidak ada internet. Jika tidak ada internet, saya tidak dapat melakukan pekerjaan saya di sana. Jika kami memiliki ponsel pintar yang memiliki kamera, Taliban tidak akan mengizinkannya,” ujarnya lagi.

Imigran Hindari Pos Polisi, Jalan Kaki 50 Jam

Usai melakukan perjalanan selama berminggu-minggu melalui Iran, para imigran yang memasuki provinsi timur Turki, Van, berjalan kaki, ada yang naik bus, atau perahu ke kota Tatvan di tepi barat Danau Van.

Dalam perjalanan mereka mencoba untuk menghindari pos pemeriksaan polisi, penggerebekan di tempat persembunyian mereka dan kapal penjaga pantai yang berpatroli.

Apatah lagi, sebelumnya sebuah kapal yang membawa sekitar 60 imigran tahun lalu tenggelam dan menewaskan mereka semua.

Wais Muhammad Shehrzad pemuda lainnya mengatakan dia meninggalkan Afghanistan sebulan yang lalu dengan menghabiskan US$1.000 kepada para pedagang (traffickers) dan berjalan hingga 50 jam sekaligus dengan sedikit makanan di jalan.

“Kaki kami melepuh, kami tidak punya pakaian, tidak ada makanan,” jelasnya sembari melepas sepatunya dan menunjukkan pergelangan kakinya yang memar.

Shehrzad menuturkan dia berasal dari Kabul dan pernah bekerja sebagai pembuat sepatu dan sebelumnya sebagai guru bahasa Inggris.

Ia mengaku ingin pergi ke Istanbul, mencari pekerjaan, dan mengirim uang kembali ke keluarganya.

Tercatat, dalam beberapa pekan terakhir, polisi Turki telah menahan ribuan imigran Afghanistan di antara sekitar 300.000 orang di negara itu.

Mereka yang ditangkap di Bitlis dikirim ke pusat repatriasi di Van, meskipun warga Afghanistan saat ini tidak dikirim kembali ke negara mereka karena kekacauan di sana.

Sehari setelah diwawancarai Reuters, Ali mengirim pesan teks. “Kami ditangkap oleh polisi,” tulisnya. [ba]

Busrah Ardanshttps://www.hariankripto.id/
Aset kripto adalah aset masa depan, khususnya bagi generasi Milenial dan generasi Y dan kelak untuk generasi Alpha. Nuansa kebebasan adalah unsur utama di aset kripto.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }