Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Bos Perusahaan Listrik Iran: Awasi Penambang Bitcoin Tiongkok

Mohammad Hussein Motevallizadeh, CEO Tavanir perusahaan listrik di Iran, mengatakan Iran harus mengawasi secara ketat hijrahnya sejumlah penambang Bitcoin asal Tiongkok ke negeri itu.

Pernyataan Hussein sangat beralasan, karena usaha tambang Bitcoin di Negeri Panda itu sudah dilarang.

“Biaya listrik yang lebih murah membuat Iran menarik bagi penambang Tiongkok. Mereka kemungkinan akan mulai menyelundupkan peralatan pertambangan ke Iran,” sebut Hussein, dilansir dari media lokal Eghtesadnews, Rabu (28/7/2021).

Kripto memang sangat popular di Iran. Banyak orang Iran sendiri berinvestasi di kripto, di tengah reli kencang selama setahun terakhir.

Biaya listrik yang murah juga mempercepat tumbuhnya bisnis penambangan kripto. Oleh sebab itu, sejak tahun 2019 Iran mengakui bisnis itu sebagai bisnis yang legal, sehingga memerlukan izin khusus..

Berdasarkan studi oleh University of Cambridge, negara Iran menyumbang lebih dari 4,6 persen dari hashrate tambang Bitcoin secara global.

Menurut Financial Tribune, 50 izin telah dikeluarkan untuk entitas pertambangan di Iran, tetapi pada akhir Juni Kementerian Industri, Pertambangan dan Perdagangan menghitung hanya ada 30.

Pasalnya ada kenaikan tarif listrik sebesar 4 kali lipat, dari 16.574 rial (US$0,39) per kilowatt-jam.

Hal itu memaksa pencurian listrik terjadi, karena pengelola merasa sangat terbeban. Bahkan sebagian lagi, termasuk penambang Bitcoin Iran, gulung tikar.

Fasilitas pertambangan berlisensi terbesar di Iran berada di kota Rafsanjan, dimiliki dan dioperasikan oleh warga Tiongkok.

Pada Mei pemerintah pusat di Teheran mengatakan akan menghentikan pasokan listrik ke sejumlah penambangan, ketika penggunaan puncak terjadi.

Tavanir sendiri pernah menyita lebih dari 200 ribu unit alat tambang di Iran. Mesin sebanyak itu setara dengan 750 megawatt listrik yang bisa menghidupi 5 provinsi sekaligus.

Penambang Tiongkok memang banyak yang sudah pindah ke negara lain, seperti AS, Kazakhstan dan Iran. Negeri Islam itu memang punya biaya listrik yang murah, namun pasokan listrik cukup terbatas.

Sejak tahun lalu, Iran memang tidak melarang kegiatan tambang kripto, termasuk Bitcoin di negeri itu.

Jauh sebelum larangan Tiongkok pada April 2021 itu, pengelola tambang Bitcoin dari Tiongkok sudah ada yang beroperasi di Iran.

Di Kazakhstan, produsen alat tambang Bitcoin, Bitmain malah sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan lokal untuk menampung ribuan alat tambang.

Kazakhstan adalah negara dengan pembangkit listrik bertenaga nuklir yang relatif murah dibandingkan jenis pembangkit lain.

Walaupun tidak diatur secara ketat, bisnis jenis ini sangat diawasi oleh otoritas setempat. [nic]

Protected with blockchain timestamps

Nicholas Nararyahttps://www.hariankripto.id
Menulis adalah kegairahan tersendiri, apalagi soal aset kripto sebagai kelas aset baru yang memukau. Sulit menolak untuk menjadi bagian dari sejarah luar biasa ini.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }