Otoritas Moneter Singapura (MAS) Membimbing Singapura Jadi Pusat Blockchain di Bidang Keuangan

- Kamis, 10 November 2022 | 19:22 WIB
Singapura berambisi jadi pusat adopsi blockchain sesuai dengan arahan Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan menghindari spekulasi kripto. (tawatchai07)
Singapura berambisi jadi pusat adopsi blockchain sesuai dengan arahan Otoritas Moneter Singapura (MAS) dan menghindari spekulasi kripto. (tawatchai07)

HarianKripto.id - Ravi Menon, Managing Director Monetary Authority of Singapore, telah menyatakan bahwa pintu terbuka untuk aset digital tetapi ditutup untuk berspekulasi atas mata uang kripto.

Berbicara pada pembukaan Singapore Fintech Festival 2022, Menon mengatakan, "Jika arti pusat kripto adalah tentang bereksperimen dengan uang yang dapat diprogram dan menerapkan aset digital pada kasus nyata atau tokenizing aset keuangan untuk meningkatkan efisiensi dalam transaksi keuangan, maka ya, kami ingin menjadi pusat kripto."

DBS Bank sedang menguji coba percontohan uang digital pertama di Singapura. Ini adalah program yang memungkinkan pedagang untuk memprogram dan mengeksekusi sendiri distribusi voucher pemerintah, sehingga memudahkan mereka untuk memproses transaksi.

Baca Juga: Blockchain Intelligence Group Meluncurkan Pelatihan Investigasi Kripto Berbahasa Mandarin Pertama di Dunia

Sebagai salah satu pusat keuangan terkemuka di Asia, Singapura memiliki ambisi untuk menjadi pusat kripto global. Meskipun begitu mereka sangat tidak tertarik untuk dikenal sebagai tempat yang aman untuk perdagangan kripto yang spekulatif dan berisiko tinggi. Ini dipicu oleh banyak laporan investor kehilangan semua tabungan mereka. Runtuhnya Terra's Luna baru-baru ini bahkan telah mendorong pemerintah untuk melarang iklan crypto di area publik dan media sosial pada Januari 2021.


Singapura berkomitmen pada blockchain

Meskipun Singapura memiliki sikap negatif yang kuat terhadap tindakan spekulatif, negara tersebut telah menunjukkan dukungan dan persetujuan untuk teknologi berbasis blockchain baru. Salah satu proyek tersebut adalah Proyek Ubin. Proyek yang sukses ini terdiri atas sebuah percobaan menggunakan blockchain untuk kliring dan penyelesaian pembayaran dan sekuritas.

Produk lain yang baru saja menyelesaikan uji coba industri pertamanya adalah Project Guardian, yang melibatkan Bank DBS, JPMorgan dan SBI Digital Assets Holdings yang melakukan transaksi dalam mata uang asing dan obligasi pemerintah yang ditokenisasi.

Baca Juga: Aplikasi Telemedicine Pertama Yang Menerapkan Pembayaran Menggunakan Cardano

MAS juga sedang mengembangkan dua inisiatif baru: satu dalam pembiayaan perdagangan dengan Standard Chartered Bank yang mengeksplorasi penerbitan token yang terkait dengan perdagangan, dan satu lagi dalam manajemen kekayaan dengan HSBC dan UOB yang berfokus pada penerbitan produk digital yang sesuai dengan situasi keuangan setempat.


Siap mendunia dengan Project Ubin+

Menon juga mengumumkan dalam pidatonya bahwa MAS membuat Proyek Ubin+ untuk membantu mendorong transaksi lintas batas menggunakan Central Bank Digital Currencies agar dapat digunakan di seluruh dunia.

Project Ubin adalah inisiatif dari Singapura yang pertama kali dimulai pada 2016. Fase awal proyek telah berhasil diluncurkan, menandai dimulainya kliring dan penyelesaian pembayaran berbasis blockchain oleh DBS Bank, JPMorgan dan Temasek.

Baca Juga: Agar Tetap Terdepan, Nissan Mengajukan Lima Merek Dagang yang Berkaitan dengan NFT

Editor: Tirta Ian

Tags

Terkini

Dampak Blockchain ke Pasar Forex

Rabu, 14 Desember 2022 | 17:35 WIB

“White Paper” Rupiah Digital Akan Diterbitkan

Rabu, 7 Desember 2022 | 23:48 WIB
X