Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Bitcoin Jadi Alternatif Konflik Kekuatan Besar AS dan Tiongkok

Era mata uang digital, termasuk Bitcoin dan kripto lainnya, yang sangat diharapkan dan ditunggu-tunggu rupanya telah memberi percikan baru antara dua negara besar, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Menurut artikel Forbes karya Roger Huang, dolar AS, yang selama ini menjadi mata uang cadangan dunia dan fokus sistem perdagangan setelah perang dunia ke-2, mulai merasa khawatir terhadap kemunculan  versi digital dari mata uang Tiongkok, yuan digital, dan juga kripto, di mana AS melihat langkah ini sebagai upaya untuk melompati “tatanan dunia berbasis aturan” yang ditegakkan oleh militer Amerika Serikat.

Kehadiran Bitcoin 

Bitcoin (BTC), yang diciptakan untuk mengisi celah kelemahan mata uang fiat, telah dilihat oleh para pionirnya sebagai aset yang akan menjadi emas digital, yang akan diadopsi oleh bank sentral dan juga bank ritel.

Berdasarkan whitepaper-nya, Bitcoin dimaksudkan sebagai aset lindung nilai independen yang tidak akan bergantung sepenuhnya pada fiat pemerintah, seperti komoditas, emas dan mata uang, yang tetap spesifik disuatu wilayah, sebelum penerapan fiat yang terkesan memaksa.

Dengan menempatkan nilai ekonomi pada daya komputasi yang langka, sesuatu yang sedang dikembangkan secara independen di banyak negara bagian dan oleh banyak individu yang berbeda, di mana idenya adalah untuk mengalihkan kemampuan entitas terpusat untuk mengontrol sistem, dengan entitas terpusat yang paling kuat adalah negara bagian, dan yang paling kuat di antara mereka adalah Tiongkok dan AS.

Dan saat ini, kedua negara tersebut tengah melakukan konflik kekuatan besar mereka terutama melalui persenjataan sistem perdagangan mereka, sebagai upaya untuk mendapatkan sekutu melalui diplomasi dan perdagangan jebakan utang, yang pada akhirnya mengarah pada pertahanan fundamental dolar Amerika Serikat dan yuan yang meningkat dan lebih terinternasionalisasi, serta meningkatnya ketersediaan opsi pembiayaan seperti obligasi dalam mata uang yuan Tiongkok.

Hal ini terus dilakukan sambil berupaya menjegal perkembangan Bitcoin, yang telah menarik banyak minat pelaku ekonomi, dengan munculnya beberapa pandangan dan peraturan yang merugikan kripto utama ini, baik itu dari pemerintah dan juga bank sentralnya.

Singkatnya, Tiongkok dan AS sebenarnya sampai saat ini masih merasa “terancam” oleh keberadaan Bitcoin, yang dinilai merusak kontrol dari mata uang (sentralisasi), mengurangi “jatah” dolar AS dalam lingkaran transaksi global dan menyebabkan “risiko keuangan” dari sisi penambangannya.

Padahal, jika kita lebih jeli lagi, Bitcoin justru hadir sebagai lindung nilai yang telah menjaga kekayaan para investornya saat pasar terombang-ambing oleh dampak perang dagang antara AS-Tiongkokyang cukup menyita perhatian pada tahun 2020 lalu.

Selain itu, BTC juga menutupi celah yang ada dari pertikaian AS-Cina, sehingga pada penduduk di negara yang lebih kecil, mata uang digital ini masih mampu menjadi alternatif murah bagi mereka yang ingin berkirim uang, disaat mereka terhalang oleh tingginya biaya (fee) kirim dan juga kesulitan dalam mengakses perbankan tradisional.

Mengisi Celah dan Potensi Masa Depan

Dan berdasarkan berita terbaru, El Salvador adalah contoh nyata dari sebuah negara yang mencoba menavigasi kesenjangan AS-Tiongkokdengan Bitcoin yang dijadikan mata uang sah di negara tersebut.

Selain itu, emisi karbon dari penambangan saat ini tengah diserang oleh beberapa pihak, yang menyebabkan kekhawatiran di kalangan investor BTC, di mana ini kemungkinan tidak akan bertahan lama karena penawaran penambangan dengan energi bersih dan terbarukan sudah mulai bermunculan untuk meng-cover masalah emisi energi ini, sehingga prospek kripto ini kembali terlihat baik yang tentu akan semakin membuat para petinggi di Cina dan bank sentral AS berkeringat.

Perlu Anda ketahui, dalam jangka panjang, kedua negara adidaya tersebut tentu akan kesulitan untuk terus menghambat Bitcoin karena sudah ada beberapa survei yang menunjukan, generasi muda ditiap negara lebih percaya kripto (Bitcoin) dibandingkan sistem keuangan saat ini karena fasilitas yang diberikan, yakni desentralisasi dan privasi.

Dan juga, para generasi muda ini lebih menyukai berinvestasi pada kripto, khususnya Bitcoin, daripada kendaraan investasi tradisional lainnya seperti obligasi, reksa dana dan juga saham.

Apakah kripto akan memiliki porsi besar di sektor keuangan global di masa mendatang? Itu bisa saja terjadi. [st]

Protected with blockchain timestamps

Syofri Taka
Menulis artikel tak hanya berdasarkan sumber-sumber yang benar. Artikel perlu tambahan makna lewat konteks dan spektrum yang beragam.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }