Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Bank BNY Mellon Ingin Rangkul Kripto, Tapi Tidak Unit Investasinya

Pasar kripto kembali mendapatkan sinyal positif dari datangnya rangkulan hangat dari BNY Mellon, salah satu bank global terbesar, meskipun salah satu unit manajemen asetnya tidak sepemikiran dengan bank tersebut.

BNY Mellon dan Kripto

Berdasarkan laporan dari Bloomberg, bank BNY Mellon telah menjadi bank global pertama yang mengizinkan klien untuk memegang, mentransfer, dan menerbitkan mata uang digital.

Namun, ada salah satu unit manajemen asetnya sendiri yang tidak begitu yakin tentang Bitcoin.

Unit manajemen tersebut adalah Insight Investment, yang memandang Bitcoin sebagai aset yang tidak cocok untuk sebagian besar investor institusional karena volatilitas tinggi, likuiditas rendah, tantangan tata kelola, dan risiko LST.

“Transaksi yang lambat dan mahal juga dapat menghambat adopsi [Bitcoin] secara luas,” kata Francesca Fornasari, kepala solusi mata uang di Insight Investment, dilansir dariĀ Bloomberg, Rabu (30/6/2021).

Memang, pergerakan harga yang ekstrim pada Bitcoin, yang telah kehilangan sekitar 46% dari puncak tertinggi terbarunya, telah menghambat minat investor institusi untuk memasuki aset tersebut.

Bisa dibilang, ini telah menciptakan kengerian tersendiri saat para investor mencoba memetakan potensi investasi mereka, tetapi sepertinya ini tidaklah perlu dikhawatirkan jika mereka masuk disaat pasar sedangĀ crash, seperti saat ini.

Volatilitas Menjadi Salah Satu Inti Masalah

Menyikapi berbagai serangan pada Bitcoin, seperti pelarangan pemerintah Tiongkok untuk penambangannya, ketatnya regulasi dan masalah emisi karbon telah membuat Fornasari berpandangan skeptis untuk melihat BTC sebagai alat pembayaran.

Tetapi, ini bukan berarti merupakan sinyal pandangan negatif dari Fornasari, karena dirinya berharap adanya peningkatan kripto untuk menantang Bitcoin, terutama untuk memecahkan masalah kecepatan dan biaya transaksi, serta penggunaan energi dan volatilitas.

“Bitcoin bisa lebih sulit untuk dievaluasi daripada emas mengingat perubahan harga yang drastis, sehingga sulit untuk memastikan bagaimana reaksinya dalam lingkungan inflasi,” kata fornasari.

Kemungkinan, jika Bitcoin telah memasuki harga US$100.000, volatilitas akan menyusut karena kapitalisasi pasarnya yang sudah membesar, sehingga akan sangat sulit bagi beberapa pihak untuk menggoyangkan harganya dalam persentase yang besar seperti saat ini, sehingga pada saat itulah, institusi akan semakin ramai memasuki BTC dan terus mengangkatnya lebih tinggi. Semoga ini menjadi kenyataan. [st]

Protected with blockchain timestamps

Syofri Taka
Menulis artikel tak hanya berdasarkan sumber-sumber yang benar. Artikel perlu tambahan makna lewat konteks dan spektrum yang beragam.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }