Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Apa Itu Smart Contract di Aset Kripto?

Smart contract di aset kripto dan blockchain memegang peran penting. Bagaimana sejarahnya dan kelemahannya?

Nick Szabo pertama kali memperkenalkan smart contract pada tahun 1990-an. Szabo adalah seorang ilmuwan komputer Amerika yang menemukan mata uang virtual yang disebut “Bit Gold” pada tahun 1998.

Temuan Bit Gold itu 10 tahun terjadi sebelum penemuan bitcoin. Szabo bahkan sering diisukan sebagai Satoshi Nakamoto yang asli, penemu bitcoin anonim.

Pada waktu itu, dia mendefinisikan sebuah smart contract sebagai alat yang memformalisasi dan mengamankan jaringan komputer dengan cara mengkombinasikan protokol-protokol dengan antarmuka pengguna.

Jadi, saat itu smart contract yang definitif untuk penerbitan aset kripto atau token, belum ajeg.

Szabo mendiskusikan potensi penggunaan smart contract dalam berbagai bidang yang melibatkan persetujuan kontraktual seperti sistem kredit, proses pembayaran, dan manajemen hak cipta konten.

Dalam dunia mata uang kripto, smart contract dapat diartikan sebagai sebuah aplikasi atau program yang berjalan pada blockchain.

Artinya, token atau coin atau aset kripto sejatinya smart conract, rangkaian kode program yanng disematkan di blockchain.

Pada intinya, smart contract blockchain memungkinkan terciptanya protokol yang tidak membutuhkan kepercayaan antar partisipan.

aset kripto
Contoh smart contract token Shiba Inu (SHIB) di blockchain Ethereum. Sumber: Etherscan.

Artinya dua pihak dapat membuat komitmen via blockchain tanpa harus mengetahui atau mempercayai satu sama lain.

Mereka dapat memastikan bahwa jika persyaratan-persyaratan tidak dipenuhi, kontrak tidak akan dieksekusi.

Dalam hal sebuah token ataupun aset kripto lain, tidak diperlukan peran manual manusia dalam proses transaksinya, sampai settlement. Semuanya diatur sejak awal di smart contract itu.

Dalam hal aset kripto SHIB, misalnya sudah diatur jumlah unit yang diterbitkan. Atau di aset kripto lain bisa diatur secara otomatis, kapan dia akan di-burn.

Selain itu, kegunaan smart contract dapat menghapus kebutuhan akan pihak perantara dan  menghilangkan biaya operasional secara signifikan.

Smart contract menjadi populer justru oleh pencipta dan salah satu pendiri Ethereum, Vitalik Buterin.

Perlu dicatat, setiap blockchain dapat menyajikan metode berbeda dalam menerapkan smart contract.

Bersumber dari academy.binance.cc , artikel itu menyebutkan smart contract dijalankan pada mesin virtual Ethereum (Ethereum Virtual Machine (EVM)).

Cara Kerjanya

Secara sederhana, smart contract berfungsi sebagai program deterministik, dimana program ini menyelesaikan tugas tertentu ketika dan jika kondisi tertentu terpenuhi.

Sistem smart contract sering kali mengikuti pernyataan “jika… maka…”. Namun terlepas dari terminologi yang populer, smart contract bukanlah kontrak hukum.

Melainkan hanya sepotong kode yang berjalan pada sistem terdistribusi (blockchain).

Pada jaringan Ethereum, smart contract bertugas mengeksekusi dan mengelola operasi blockchain yang terjadi ketika alamat pengguna (address) berinteraksi satu sama lain.

Alamat apa pun yang bukan merupakan smart contract dikategorikan sebagai akun milik eksternal (externally owned account/EOA).

Dengan demikian, smart contract dikendalikan oleh kode komputer, dan EOA dikendalikan oleh pengguna.

Smart contract Ethereum dibuat dari kode kontrak dan dua kunci publik (public key).

Kunci publik pertama adalah yang disediakan oleh pencipta kontrak.

Kunci lainnya mewakili kontrak itu sendiri, bertindak sebagai pengidentifikasi digital yang unik untuk setiap smart contract.

Penempatan setiap smart contract dibuat melalui transaksi blockchain, dan hanya dapat diaktivasi dengan EOA (atau smart contract lainnya). Namun, pemicu pertama selalu disebabkan oleh EOA (pengguna).

Karakteristik Smart Contract

Terdistribusi. Smart contract direplikasi dan didistribusikan di semua node jaringan Ethereum.

Ini adalah salah satu perbedaan utama dari solusi lain yang didasarkan pada server terpusat.

Deterministik. Smart contract hanya melakukan tindakan yang dirancang untuknya jika semua persyaratan yang diberikan terpenuhi.

Hasilnya akan selalu sama, tidak peduli siapa yang mengeksekusinya.

Otonom. Smart contract dapat mengotomatisasi semua jenis tugas, bekerja seperti program yang dijalankan sendiri.

Dalam banyak kasus, jika tidak dipicu maka smart contract akan bersifat tidak aktif atau “dormant” dan tidak akan melakukan tindakan apa pun.

Abadi. Tidak dapat diubah setelah digunakan, smart contract hanya dapat “dihapus” jika fungsi tertentu sebelumnya diterapkan.

Artinya smart contract dapat memberikan kode yang tidak dapat diubah (tamper-proof).

Dapat disesuaikan. Sebelum penyebaran, smart contract dapat dikodekan dengan berbagai cara.

Jadi, smart contract dapat digunakan untuk membuat banyak jenis aplikasi terdesentralisasi (DApps).

Ini terkait dengan fakta bahwa Ethereum adalah blockchain Turing complete.

Tidak butuh kepercayaan. Dua atau lebih pihak dapat berinteraksi melalui smart contract tanpa mengetahui atau mempercayai satu sama lain.

Selain itu, teknologi blockchain memastikan bahwa data benar-benar akurat.

Transparan. Karena smart contract didasarkan pada blockchain publik, kode sumbernya tidak hanya abadi tetapi juga dapat dilihat oleh siapa pun.

Manfaat dan Penggunaan

Tujuan dari smart contract adalah mengurangi kebutuhan akan perantara tepercaya, arbitrase dan biaya penegakan hukum, kerugian akibat penipuan, serta pengurangan pengecualian yang berbahaya dan tidak disengaja.

Smart contract pada khususnya sangat berguna pada keadaan yang melibatkan pengiriman atau penukaran aset di antara dua pihak atau lebih.

Dengan kata lain, smart contract dapat dirancang untuk berbagai macam penggunaan.

Beberapa contoh termasuk penciptaan aset yang ditokenkan, sistem pemungutan suara, dompet kripto, bursa terdesentralisasi, game, dan aplikasi ponsel.

Smart contract juga dapat digunakan bersama dengan solusi blockchain lain yang menangani bidang kesehatan, amal, rantai pasokan, pemerintahan, dan keuangan terdesentralisasi/decentralized finance (DeFi).

Tergantung pada implementasinya, smart contract juga dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya birokrasi.

Keterbatasan

Smart contract dibuat dengan kode komputer yang ditulis oleh manusia. Ini membawa risiko yang tinggi karena kode sangat rentan terhadap bug.

Idealnya, smart contract harus ditulis dan digunakan oleh programmer yang berpengalaman, terutama ketika melibatkan informasi sensitif atau uang dalam jumlah besar.

Selain itu, beberapa berpendapat bahwa sistem terpusat dapat memberikan sebagian besar solusi dan fungsionalitas yang ditawarkan oleh smart contract.

Perbedaan utama adalah bahwa smart contract berjalan pada jaringan P2P terdistribusi, bukan server terpusat.

Dan karena didasarkan pada sistem blockchain, smart contract cenderung tidak berubah atau sangat sulit untuk diubah.

Sifat tidak dapat diubah (abadi) merupakan hal yang baik di keadaan tertentu, tetapi juga dapat menjadi hal yang buruk di keadaan lainnya.

Sebagai contoh, ketika Organisasi Otonomi Terdesentralisasi / Decentralized Autonomous Organization (DAO) yang disebut dengan “The DAO” diretas pada tahun 2016, jutaan ether (ETH) dicuri karena lemahnya kode smart contract mereka.

Karena smart contract mereka tidak dapat diubah, para pengembang tidak dapat memperbaiki kode.

Pada akhirnya ini membawa pada hard fork, melahirkan chain Ethereum yang kedua, yakni Ethereum Classic.

Sederhananya, satu chain “membalikkan” retasan dan mengembalikan dana ke pemilik yang sah (ini adalah bagian dari blockchain Ethereum saat ini).

Kritikan

Smart contract tentunya adalah sebuah teknologi yang sangat menarik.

Tetapi, dengan sifat terdistribusi, deterministik, transparan, dan agak tidak berubah dapat membuatnya kurang menarik dalam beberapa keadaan.

Pada dasarnya, kritik bersandar pada kenyataan bahwa smart contract bukanlah solusi yang cocok untuk banyak masalah di dunia nyata.

Bahkan, beberapa organisasi lebih baik menggunakan alternatif berbasis server konvensional.

Jika dibandingkan dengan smart contract, server terpusat lebih mudah dan lebih murah untuk dipelihara, dan cenderung menawarkan efisiensi yang lebih tinggi dalam hal kecepatan dan komunikasi lintas jaringan (interoperabilitas).

Bersumber dari Wikipedia smart contract tidak selalu merupakan perjanjian yang mengikat secara hukum.

Beberapa akademisi hukum mengklaim bahwa kontrak pintar bukanlah perjanjian hukum, melainkan sarana melakukan kewajiban yang berasal dari perjanjian lain seperti sarana teknologi untuk otomatisasi kewajiban pembayaran atau kewajiban yang terdiri dari transfer token atau cryptocurrency.

Selain itu, sejumlah ahli lain berpendapat bahwa sifat imperatif atau deklaratif bahasa pemrograman dapat memengaruhi validitas hukum smart contract.

Sejumlah negara bagian di AS bahkan telah mengeluarkan undang-undang tentang penggunaan smart contract seperti Arizona, Nevada, Tennessee, dan Wyoming.

Dan pada April 2020, Dewan Perwakilan Iowa mengesahkan undang-undang yang secara hukum mengakui smart contract di negara bagian tersebut.

Di Inggris sendiri, pada April 2021, UK Jurisdiction Taskforce (UKJT) menerbitkan Aturan Resolusi Sengketa Digital (Aturan Digital DR) untuk membantu memungkinkan penyelesaian cepat sengketa hukum blockchain dan kripto di Inggris. [rid]

Protected with blockchain timestamps

Ridho Riyadhhttps://www.hariankripto.id/
Setiap langkah kecil menulis tentang aset kripto adalah langkah besar untuk masa depan keuangan dunia. Jangan kita lapuk demi fiat money yang sudah lapuk dan tergerus.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }