Invasi Rusia Guncang Kripto, Bitcoin: Waspadai US$25.253 per BTC

- Jumat, 25 Februari 2022 | 11:11 WIB

Dampak invasi Rusia ke Ukraina terhadap kripto benar-benar sangat masif, sedikit di luar perkiraan sebelumnya. Banyak pihak ingin melakukan buy-the-dip terhadap Bitcoin, tetapi aksi jual lebih mendominasi. Inilah fakta-faktanya. Sebelumnya pada Kamis (24/2/2022) dini hari, Rusia memulai invasi besar-besaran ke Ukraina. Presiden Vladimir Putin menyebutnya sebagai operasi militer untuk melindungi dua kota besar yang sudah memerdekakan diri dan hendak bergabung ke Rusia. Pasar modal dan valas secara mengejutkan bereaksi negatif terhadap berita ini, kripto dan tentu saja Bitcoin tidak terkecuali. Penurunan tajam kemarin dan bisa jadi beberapa pekan berikutnya, mengikuti sentimen negatif setelah Bitcoin kehilangan kisaran antara US$41.000–US$44.200. Kegagalan untuk bertahan dan terobosan harga itu, mencerminkan bahwa bear tetap memegang kendali. Harga terus turun sejak itu. Tanda peringatan di awal minggu adalah rasio Long/Short menjadi parabolik, karena harga Bitcoin terus merosot. Ini memberikan sinyal lebih kuat lagi, bahwa banyak trader yang mencoba untuk membeli penurunan (buy-the-dip), tetapi tidak berhasil, fakta arus jual jauh lebih kuat. Lihat gambar di bawah ini.
-
Berdasarkan gambar di atas, Rasio Long/Short per malam kemarin, telah masuk ke tingkat yang lebih netral, dan pada penurunan harga yang tajam hari ini, tingkat funding sangat negatif dan membuat posisi terendah jangka pendek baru pada kontrak Binance Futures. Jadi, tidak mengherankan, dengan percepatan tren turun baru-baru ini, bearish sekarang muncul di semua time-frame. Di situasi seperti ini sikap ekstra hati-hati sangat disarankan dalam waktu dekat, setidaknya sampai kita mulai melihat beberapa kepastian adanya perubahan tren.

Waspadai Wilayah US$25.253

Jika harga terus turun, garis crossing Moving Average (MA) 20 secara mingguan memberikan gambarkan adanya potensi wilayah support untuk Bitcoin, di antara US$29.382 dan US$25.253. Masa terakhir situasi seperti itu, yakni pada Maret 2020, dengan harapan, lebih dekat dengan akhir September 2021. "Jika harga turun di bawah harga itu, maka support utama terakhir adalah MA 200 (US$20.000)," menurut kajian Decentrader, Kamis (24/2/2022.

Peter Brandt: Koreksi Bitcoin Bisa Berbulan-bulan

Jauh sebelum invasi ini, trader kawakan asal AS, Peter Brandt sudah mewanti-wanti, bahwa koreksi Bitcoin bakal berbulan-bulan. Peter Brandt, trader veteran asal Amerika Serikat mengatakan, bahwa koreksi Bitcoin bakal lama. Melemahnya kinerja Bitcoin lazimnya diikuti oleh turunnya harga kripto lain. Analis berpengaruh itu memperingatkan bahwa koreksi Bitcoin akan memakan waktu berbulan-bulan mengikuti koreksi di masa lalu, sebelum mencetak harga tertinggi sepanjang masa. Dia pun tak lupa mengkritik para pembela Bitcoin yang secara masif berpendapat secara berlebihan. Menurutnya, pandangan buta seperti itu justru merugikan trader pemula. "Seperti sebelumnya, harga Bitcoin perlu waktu selama berbulan-bulan untuk mencapai harga tertinggi sepanjang masa. Koreksi saat ini bisa berlaku hal serupa. Kenaikan di antaranya bukanlah hype yang berlangsung lama," kata Brandt di Twitter, Jumat (18/2/2022). https://twitter.com/PeterLBrandt/status/1494463749654204425 Brandt melampirkan grafik yang menunjukkan bahwa harga Bitcoin perlu waktu berbulan-bulan hingga mencetak harga tertinggi sepanjang masa alias all time high. Dia mencontohkan kenaikan masif antara 2011 dan 2013 perlu waktu hingga 21 bulan. Kemudian dari tahun 2013 hingga 2017 perlu sekitar 30 bulan. Namun di saat yang sama, ia justru masih ragu, apakah harga US$69 ribu per BTC pada November 2022 merupakan harga all time high, terhitung harga pada tahun 2019. Dengan kata lain, jikalau US$69 ribu adalah harga puncak dan mengikuti pola masa lalu, maka koreksi Bitcoin bisa berlangsung berbulan-bulan. Koreksi Desember 2017 hingga Desember 2018 misalnya, perlu waktu sekitar 12 bulan. Brandt sendiri memang dikenal sangat aktif memberikan pandangan terkait kripto dan Bitcoin. Ia ternama sebagai trader lintas aset di pasar berjangka (futures market) sejak tahun 1975. Brandt memang enggan memberikan proyeksi waktu kapan pasar kripto bergairah kembali. Hanya saja, selayaknya trader, ia menyarankan lebih pragmatis dan lebih masuk akal: "jangan cetak kerugian tambahan." Bitcoin tetap memiliki masa depan yang baik bagi orang-orang yang berpikir jangka panjang, khususnya jika melihat pelemahan dolar AS di masa depan, akibat langkah dedolarisasi oleh banyak negara.

Editor: Nicholas Nararya

Tags

Terkini

Seni Pixel Kaki? NFT Teraneh Tahun 2023 

Rabu, 11 Januari 2023 | 23:10 WIB

Emas atau Bitcoin, Bagus Mana?

Selasa, 13 Desember 2022 | 18:00 WIB

Siapa yang Memimpin Web 3.0?

Senin, 5 Desember 2022 | 19:07 WIB

Mengenal Tentang Mekanisme Proof-of-Work (PoW)

Selasa, 29 November 2022 | 20:47 WIB

Memahami Kelebihan dan Kekurangan Cryptocurrency

Selasa, 29 November 2022 | 20:39 WIB

Ethereum VS Cardano, Pilih Mana?

Selasa, 29 November 2022 | 20:34 WIB

Yuk Mengenal Lebih Dalam Tentang Proof-of-Stake

Senin, 28 November 2022 | 21:01 WIB

Kripto Ilegal, Apa Benar?

Senin, 28 November 2022 | 20:22 WIB

Kripto atau Saham, Mana Lebih Menguntungkan?

Rabu, 23 November 2022 | 23:27 WIB

Apa Itu Tokenisasi di Dunia Kripto?

Senin, 2 Mei 2022 | 20:30 WIB

Apa Itu Rug Pull Kripto dan Cara Mengenalinya?

Sabtu, 26 Februari 2022 | 11:35 WIB

5 Artis Indonesia Masuk Kripto, Dari Anang Hingga Atta

Jumat, 25 Februari 2022 | 11:11 WIB

Prediksi Harga Shiba Inu 2022

Jumat, 18 Februari 2022 | 11:20 WIB

5 Cara Ampuh Menjual NFT

Selasa, 15 Februari 2022 | 11:00 WIB
X