Html code here! Replace this with any non empty raw html code and that's it.

Analis On-Chain: Bitcoin Berpotensi Menembus US$42.000

Bitcoin (BTC) yang terus mencoba bergerak ke atas telah memicu banyak pandangan optimis, di mana salah satunya melihat adanya potensi untuk menembus level US$42.000.

Bitcoin akan Lampaui US$42.000 

Menurut analis on-chain Willy Woo, kripto utama ini akan dapat melampaui US$42.000 dalam upaya kenaikan selanjutnya.

US$42.000 adalah level tertinggi baru-baru ini yang sempat dicapai dalam upaya bullish dua minggu sebelum mengalami koreksi.

Woo mendasarkan analogi bullish-nya pada apa yang disebut indikator Rick Astley, heat-map yang melacak investor. Ini menunjukan pembelian Bitcoin untuk tujuan menahan aset dalam jangka waktu yang lebih lama.

Sebelumnya, indikator tersebut telah memprediksi lonjakan harga Bitcoin berdasarkan aktivitas pembelian investor di bawah level resistensi teknis tertentu.

indikator heat-map investor
Indikator heat-map investor Bitcoin

Namun, Woo mencatat bahwa “investor jangka panjang yang kuat menyerap” pasokan Bitcoin saat di bawah US$42.000. Hal inilah yang meningkatkan prospek penutupan BTC di atas level tersebut.

HODLer yang kuat telah mengambil kesempatan ini untuk meraup sejumlah besar koin saat kita berada di bawah batas atas resistansi,” kata Woo, dilansir dari Cointelegraph, Jumat (6/8/2021).

Woo mengungkapkan pandangan ini setelah mengubah level psikologis US$40.000 menjadi support.

Prospek kenaikan Bitcoin tampak terbatas karena kecenderungannya untuk menolak upaya penembusan bullish di atas area US$40.000-US$42.000.

Lebih detailnya, Bitcoin telah melakukan setidaknya sepuluh upaya untuk ditutup di atas area tersebut sejak crash pertengahan Mei lalu.

Bitcoin terjebak di bawah level resistensi US$42.000
Bitcoin terjebak di bawah level resistensi US$42.000

Selain itu, tekanan jual yang kuat di area tersebut telah mendorong kripto utama ke kisaran yang lebih rendah antara US$30.000-US$35.000.

Tekanan Pasokan

Prediksi kenaikan Woo juga mengarah ke tekanan pasokan. Ini adalah situasi di mana jumlah pasokan BTC yang tersedia turun di bawah permintaan pasar spot-nya, yang mengarah ke tawaran yang lebih tinggi.

Woo menerapkan indikator “Liquid Supply Shock” miliknya sendiri untuk menyimpulkan bahwa pasar sedang kehabisan Bitcoin.

“Saya belum pernah melihat peluang tekanan pasokan seperti ini sejak Q4 2020 ketika BTC dihargai US$10 ribu hanya untuk melonjak ke US$60 ribu di bulan-bulan sesudahnya. Guncangan pasokan kami masih berperan dengan perkiraan harga yang lebih tinggi,” kata Woo.

Memang, meningkatnya minat investor jangka panjang tentu akan menipiskan pasokan, sehingga indikator Woo menjadi semakin menarik untuk diandalkan.

Terlebih, adopsi dari institusi pun turut menyumbang pergerakan pada indikator ini yang menciptakan sinyal luar biasa untuk kenaikan Bitcoin. [st]

Syofri Taka
Menulis artikel tak hanya berdasarkan sumber-sumber yang benar. Artikel perlu tambahan makna lewat konteks dan spektrum yang beragam.

TERKINI

ARTIKEL TERKAIT

margin: 45px; }